percobaan

By m4y4fitria
Masih teringat dengan suara si Opa Sting itu (suara dan, … suara), diriku harus mulai menerima kenyataan: aku sudah di Cengkareng. Hadooohhhh kebayang kerjaan-kerjaan dan pe-er pe-er yang udah nungguin untuk dikerjain. Sampe rumah diriku memaksa diri untuk nggak tepar, karena agak nggak lega juga untuk langsung tidur.

Besok pagi sekali diriku harus ke Mahkamah Konstitusi untuk ikut sidang pengujian UU perfilman (UU No.8 tahun 1992) dan memberikan kesaksian sebagai aktor. Booook…!!!

Gue udah nyiapin tu bahan dari dua minggu lalu! Lengkap dengan berlatih di depan kaca bagaimana ‘orasi’ gue nanti yang bakal gue bawain di depan ke sembilan hakim high court itu.

Dan sekarang, (tentunya setelah konsentrasinya udah tercurah untuk ngafalin teks lagu-lagunya the Police kemarin) gue lupa lagi semua intensitas materi sidang yang udah gue siapin!!!!!! Sinjrit!

Adooh jadilah gue malem2 pagi2 buta jam 3 phageeeee sendirian di ruang makan ber wifi itu sok sok an nyiapin bahan buat besok, seenggaknya sekedar run through pointers apa aja yang mau gue omongin.

Tapi look at me now! Yeah…, I’m sitting and laughing at the comments from my blog, and write another new post lagi! (what am I doing??) susah ya kalo udah ketemu serunya ngeblogg.., susah banget nahan diri untuk nggak langsung ngebalesin satu-satu, bikin resume kecil tentang apa yang gue maksud tentang ‘cemonk’ or jelasin dari umur berapa sampe berapa gue dilesin bernang sama bokap, or apalah….

Mungkin pada dasarnya gue memang overwhelmed aja kali ya dengan comment-comment yang baru masuk. Baru mulai seru seruu timpalannya, bikin akhu laughing laughing...(quote: Cincha Lawrah) di ruang tengah sendirian.Weekend kemarin, hari sabtu awal pertama dari bulan maret, aku sempat akhirnya setelah sekian lama, sekitar 2 atau 3 tahunan aku tidak pernah ke Solo, akhir-akhir ini selalu setiap ke luar kota urusan pekerjaan terutama promo film tidak pernah ke Solo, biasanya Jogja, Surabaya, Makasar, Medan, Palembang, Semarang dan sebagainya, tidak tahu mengapa, mungkin jawa tengah sudah di wakilkan oleh Jogjakarta, dan sudah lama saya tidak menemani Eyang putri ke Solo karena terhalangi oleh pekerjaan, dulu biasanya terutama waktu kecil setahun sekali pasti kami pulang ke Solo untuk nyekar leluhur dan sesepuh kami atau keluarga kami yang telah di panggil oleh yang maha kuasa, dan menengok kangen-kangenan sama sanak keluarga di sana, atau sekedar menikmati rumah keluarga kami di Klaten atau Salatiga, atau melahap semua makanan khas sana favorit ku seperti selat solo, bistik solo, nasi liwet, sosis solo, wedang jahe dan lain-lain, itulah sangking lamanya kita di jajah banyak makanan-makanan khas kita yang terkontaminasi dengan makanan orang-orang barat sana walaupun di modifikasi ala-ala lidah kita hehehe…Di mana ada eyang putri memang selalu ada aku, begitu teman-teman eyang ku bilang bila bertemu aku setelah aku besar, aku memang di besarkan oleh eyang putri setelah mama papaku bercerai dan mamaku pulang ke negaranya Inggris… Rumah salatiga di jalan Kotamadya persis depan lapangan krida sudah di jual hiks hiks hehe, banyak kenangan indah di rumah tersebut, rumah besar kokoh bangunan belanda yang tanpa ac walau di siang bolong tetap sejuk, lantainya pun dingin, sedangkan rumah di klaten, rumah eyang kakung muda aku memanggilnya masih ada, eyang kakung muda adalah adik kandung eyang putriku, kenangan yang paling melekat dari rumah tersebut adalah setiap ke rumah tersebut kegiatan ku seharian hanya memetik dan memakan buah rambutan, karena di depan rumah tersebut terdapat pohon rambutan yang seingat aku tidak pernah tidak ada dan tidak pernah habis-habis rambutannya, dan aku dari teras rumah Klaten lantai 2 bisa sampai dan memetik buah-buah dari pohon tersebut hmmmmm … Memang setengah darah yang mengalir di tubuhku berasal dari Solo, dan setengahnya lagi mengalir darah yang berasal dari salah satu negara di belahan Eropa yaitu Inggris., dua daerah yang sangat kental budaya kerajaannya…

Foto-foto di atas menggambarkan perjalanan singkat pulang pergi ku, kerja dan pulang kampung ku ke solo, berangkat jam 6 pagi dan kembali lagi ke jakarta jam 6 sore fuuiih, jadi tidak sempat macam-macam juga, makan di restorant saja hanya sempat satu kali di soto Gading itu, itupun pada saat setelah landing di solo untuk sarapan, seterusnya kita makan makanan yang di sediakan panitia weee sebel hehehe… Rute pertama adalah kita ke Wonogiri untuk menanam sedikit pohon-pohon di suatu desa di bukit tertinggi daerah tersebut, yah idenya sih mau mengajak mari kita mulai sedikit-sedikit menghijaukan kembali bumi kita setidaknya, kenapa Wonogiri, karena Wonogiri di tuduh salah satu yang menyebabkan apabila terjadi banjir di sana, karena apabila hujan deras Wonogiri terpaksa membuka bendungannya yang sudah sangat penuh dan mengalirkannya ke bawah, kenapa itu bisa terjadi, yaaa mungkin awalnya salah satunya penyebabnya adalah karena pohon-pohon di daerah tersebut sudah banyak sekali yang di tebangi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab… Setelah itu kami sedikit menyantuni jompo-jompo di daerah tersebut, ada suatu pemandangan yang indah sekali aku dapati, ada satu kakek yang setia menggendong seorang nenek istrinya yang sudah tidak bisa berjalan, padahal sang kakek sendiri jalannya sudah lamban sekali dan gemetaran :-)

Rute berikutnya adalah kumpul-kumpul dan ngobrol-ngobrol saja dengan masyarakat di desa berbeda but close dari desa pertama, lebih di fokuskan ke masyarakat yang menggantungkan hidupnya dan keluarganya dengan bedagang kecil-kecilan, berdagang keliling, bakul jamu, dan juga terhadap nelayan dan kelompok tani… Begitu datang kami di sambut dengan welcome drink, seperti kalau kita baru sampai di hotel-hotel bintang 5 dan akan cek in, biasanya kalau di hotel-hotel welcome drink nya adalah aneka juice atau fruit punch, sedangkan ini kami di suguhkan jamu hehehe, dan pada saat itu aku minta di buatkan jamu campuran kunyit asam, sirih dan beras kencur, i like jamu dan sudah lama tidak menemukan bakul jamu keliling di komplex aku tinggal, dan tidak sempat buat sendiri juga, memang eyang putri ku mengharuskan anak-anak dan cucu-cucunya terutama yang perempuan, masih perawan atupun sudah menikah untuk rajin minum jamu, hayooo pikirannya jangan porno dulu hehehe, kata eyang ku jamu itu bagus buat stamina, kesehatan, disinfectan, awet muda, untuk wangi badan, dan kesehatan keindahan dan kenikmatan alat sensitif kita huehe, “ngapain itu obat-obat jaman sekarang, bohong semua!”, kata eyang putriku dengan logat jawanya hehehe…

Mereka tidak bermimpi muluk-muluk ingin mencapai bintang, mereka hanya berusaha dan berdoa agar kehidupannya naik setingkat, sedikit membaik, di naikkan sebenang (seperti bahasa Nagabonar), agar hanya lancar makan setiap hari, lancar membayar sekolah anak-anaknya setiap bulan, dan biaya-biaya rumah tangga lainnya yang tidak macam-macam, well itulah setidaknya yang tertangkap oleh aku, dan untuk hanya itu pun sepertinya masih jauh dari kenyataan, oh… oh…

Tinggalkan Balasan